Alasan Menjadi Au Pair

Kenapa sih mau ikutan program au pair? Kan jauh dari rumah sama keluarga dan teman-teman? Kenapa ga lanjut kuliah atau kerja aja mengejar karir supaya ga ketuaan? Bla.. Bla.. Bla..

Well, semua itu pilihan hidup.

Kalau saya pribadi juga punya beberapa alasan tersendiri kenapa akhirnya memutuskan jadi au pair.

1. Saya suka traveling

Ya saya suka sekali berpetualang. Solo traveling bagi saya lebih menyenangkan dan efisien ketimbang mengajak teman yang serba rempong dan banyak ngeluh. Huh! Menyenangkan juga lho bisa bertemu orang-orang baru di tempat baru tentunya tetap harus hati-hati dan cermat memilih teman baru serta harus pandai membawa diri.

Teman baru bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, teman lama ditinggal sebentar juga ga akan mati. Teknologi udah maju, bisa video call kalo kangen.

2. Mandiri

Ketika saya lulus kuliah saya memiliki beban jika diharuskan bekerja untuk jalan yang bukan passion saya. Tapi saya sadar tidak mungkin terus-terusan bergantung pada orang tua. Kalau di Eropa anak seusia 18 tahun saja sudah bisa mandiri dan mulai tinggal sendiri kenapa saya tidak? Saya juga gamau kalah.

3. Cara termudah untuk practice bahasa baru

Mau lancar Bahasa Inggris atau Bahasa Negara lain? Saya butuh partner untuk lawan bicara setiap hari dan hal ini ga akan bisa saya temukan di Indonesia. Sekalipun ada itu pun juga ga akan bertahan lama, paling-paling cuma satu jam.

4. Melatih kesabaran dengan anak kecil

Syarat jadi au pair adalah menyukai anak-anak.

Tapi kadang ga semua sesuai ekspetasi kita. Haha kalo yang satu ini sih kayaknya secinta-cintanya kamu sama anak kecil, kalo udah ketemu  anak orang lain terus agak misbehave plus kamu harus berinteraksi setiap hari dengannya, kamu bisa tiba-tiba berpikir gemas, “Why am I here?” told my english teacher, she was an au pair when she was young.

Dari memperhatikan orang tua angkat mendidik anaknya, saya bisa belajar bagaimana mendidik anak yang baik dan mana yang salah.

5. Saya agak lelah dengan budaya dan pola pikir konservatif di Indonesia.

Kalau yang satu ini benar-benar masalah pribadi saya sih, mungkin saya yang terlalu lelah dengan cara berpikir orang-orang di sekitar saya. Mungkin saya yang terlalu open minded and tend to liberal.

Belum lagi saya merasa semua tempat di Indonesia, Jakarta khususnya terlalu bising untuk jadi tempat tinggal dan terlalu padat untuk jadi tempat pelepas penat. Belum lagi soal sampah yang…, ahh sudahlah..!! Terlalu banyak yang saya sayangkan. Karena saya ga mungkin merubah tempat atau pola pikir di sekitar saya, maka saya lah yang harus keluar dari zona saya sendiri, so that’s why I became an au pair.

6. Saya bukan bule hunter tapi buat saya, I think western man is better than Indonesian guy.

Saya merasa ga akan pernah cocok sama pria Indonesia mana pun selama masih kental dan terpaku pada budayanya. Pokoknya secara personality dan cara berpikir sudah sangaaaatt  jauh berseberangan. 🤷🏼‍♀️

Why? Hmm nanti lah saya kasih tau bedanya dating sama pria lokal dan bule. 😬

7.  Kan harus bersih-bersih rumah segala? Kok mau sih?

Yaelah. Sama aja kok kayak di rumah sendiri. Kalo di Indonesia kebiasaan pakai jasa asisten rumah tangga itu wajar dan bisa nyuruh seenaknya itu kurang ngajar (asisten rumah tangga juga manusia bukan budak), biasa dan banyaknya ART karena upah tenaga kerja di Indonesia terbilang rendah (boro-boro ART, gaji seorang pengacara junior aja bisa setara sama buruh *maaf curhat).

Di Eropa semua biasa dikerjakan sendiri oleh si empunya rumah, kalau pun mereka menggunakan jasa cleaning lady itu juga ga setiap hari paling 1-2 kali seminggu. Mahal bo! Kecuali emang tajir melintir bisa bayar cleaning lady tiap hari. Sistem penggajiannya kan perjam.

Lagian kalaupun ada kewajiban bersih-bersih paling bersihin kamar sendiri, masa iya nyuruh si ibu atau bapak angkat bersihin kamar kita? Ngelunjak namanya, minta diusir. Cuci piring udah pake mesin, cuci baju biasanya cuci baju sendiri atau baju anaknya itu juga pake mesin cuci dan pengering, ga pake kucek-kucek jemur. Inem kalee? 🙄 (Sorry buat yang namanya inem no offense kok ✌🏼)

Ya istilahnya bersih-bersih sekedar tau diri aja udah numpang di rumah orang.

Kalaupun ada kejadian kalian disuruh melakukan pekerjaan yang berat, kalian harus bisa tegas menolak dan segera lapor ke pihak agency au pair (bagi yang menggunakan agency atau bisa lapor ke aupairworld support) atau bisa saja KBRI. Overtime berbayar saja sesungguhnya tidak diperbolehkan kok.

Cuma emang mungkin ada beberapa keluarga yang kurang paham dengan konsep au pair ini dan malah disalah gunakan untuk eksploitasi, nah yang seperti itulah yang perlu diluruskan. Toh kalo emang tugasnya kebangetan dan kita merasa dirugikan kan bisa pindah cari host family yang lebih baik. Kalau terbukti keluarganya yang salah, nantinya keluarga tersebut akan kena penalty ga boleh jadi host family lagi.

Mereka yang mau mengundang au pair di keluarga mereka biasanya, para orang tua yang super kaya super duper sibuk bekerja dan hampir ga ada waktu buat anaknya selama daytime dan akan merasa terbantu sekali jika ada au pair di rumahnya. Mereka akan mempercayakan si au pair ini sebagai orang dewasa ke tiga di rumah mereka untuk bisa dipercayai menjaga dan mengurus anak-anaknya selama mereka bekerja, sebagai imbalannya kita diperbolehkan tinggal di rumah mereka, memakai dan merusak fasilitas yang ada selayaknya anggota keluarga.

Au pair itu sendiri biasanya merupakan anak muda  dari negara lain yang memiliki perbedaan kebudayaan dari keluarga tersebut, sehingga terjadilah proses pertukaran budaya. Mungkin cara makannya yang berbeda atau bisa jadi cara tidurnya yang beda *abaikan.

Nah untuk mendukung proses pertukaran budaya ini berjalan lancar dan agar si au pair bisa mengerti bahasa yang di gunakan si keluarga dan tetangga, maka si au pair berhak mendapat fasilitas kursus bahasa juga. Agar si au pair bisa explore ke sana ke mari di negara tersebut ia juga berhak mendapat uang saku setiap bulannya serta asuransi kesehatan.

8. Mencari tujuan hidup.

Seseorang pernah berkata tujuan hidup itu ya untuk bahagia. Well, that’s cliche for me, tapi ada benarnya. Semua orang pasti ingin bahagia termasuk saya.

Tapi masalahnya apa sih tolak ukur kebahagiaan itu? Saya rasa tiap orang punya ukurannya masing-masing. Kalau teman saya bisa bilang ya dengan cara mensyukuri apa yang sudah ada. Bersyukur deh intinya.

Tapi buat saya ada 2 cara bersyukur yaitu, yang pertama menerima gitu aja apa yang sudah ada dan yang kedua mau improvisasi dan jadi lebih baik.

Kalau saya memilih yang kedua, dengan cara keluar dari zona nyaman saya, saya ingin melihat dunia, mencari pengalaman, mecoba hal-hal unik, karena saya ga suka gaya hidup monoton yang gitu-gitu aja. Masih banyak pula inspirasi dan kegiatan menarik yang ingin saya cari serta lakukan selagi muda.

Sebelum 30 tahun, sebelum saya tutup usia dan selama masih muda saya ingin memiliki banyak hal untuk diceritakan kelak kepada anak saya, meskipun saat ini saya belum kepingin punya anak dan masih kepengen jadi anak.

9. Batu loncatan untuk lanjut kuliah di Eropa.

Yes, this is the main reason. Saya sebenarnya masih terobsesi menjadi seorang enginer dengan background sarjana teknik atau mungkin seorang urban planner, saya lebih suka sains ketimbang ilmu hukum.  Tapi berhubung otak saya udah ga pernah diasah dengan rumus fisika, kimia dan matematika jadi saya harus mencari minat lain yang sesuai passion saya, agar mudah melalui seleksi masuk universitasnya.

Jadi kalau ditanya masih mau jadi au pair? Ya kenapa engga? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s